27 Tahun, Masih Ngerasa Ketinggalan — dan Itu Mungkin Wajar
Gue nulis ini bukan karena udah punya jawabannya.
Gue nulis ini justru karena belum.
Umur yang Tiba-tiba Terasa Berat
Ada satu momen yang gue inget jelas. Bukan momen dramatis — nggak ada hujan, nggak ada lagu sedih. Gue cuma lagi scroll LinkedIn, lihat orang-orang seumur gue yang udah jadi Senior Data Engineer, udah lulus S2 di luar negeri, udah punya portofolio yang bikin gue minder duluan sebelum baca isinya.
Dan gue duduk di sana, mikir: gue udah ngapain aja?
Pertanyaan itu lebih sakit dari yang kelihatannya. Bukan karena gue nggak ngapa-ngapain — gue kerja, gue belajar, gue coba. Tapi ada gap antara di mana gue sekarang dan di mana gue pikir gue harusnya berada di umur ini. Dan gap itu terasa lebar banget di momen-momen tertentu.
Switch Karir yang Bikin Happy, Tapi Belum Cukup
Gue sebelumnya di finance. Bukan karena passion — lebih karena itu yang tersedia dan gue cukup bisa melakukannya. Tapi ada bagian dari gue yang selalu ngerasa ini bukan tempat gue seharusnya.
Terus gue nyebur ke IT. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, gue ngerasa excited pergi kerja.
Tapi excitement itu datang bersamaan dengan sadar diri yang menyakitkan — gue terlambat. Orang-orang yang udah di sini sejak kuliah punya keunggulan yang nggak bisa gue kejar dalam semalam. Mereka udah punya jam terbang yang gue belum punya. Dan gue mulai dari titik yang jauh lebih belakang.
Happy karena switch? Iya. Puas sama posisi sekarang? Belum.
Dua hal itu bisa exist bersamaan, dan gue lagi belajar untuk tidak memaksakan salah satunya hilang.
Kenal Coding Sejak 2017, Masih Ngerasa Nggak Bisa
Ini yang paling bikin gue frustrasi.
Gue pertama kali kenal coding tahun 2017. Artinya udah hampir satu dekade. Dan gue masih sering ngerasa — gue nggak bisa apa-apa.
Ikut bootcamp ini, nggak nempel. Coba tutorial itu, setengah jalan berhenti. Buka course lagi, excited di awal, hilang di tengah. Ada sesuatu yang selalu nggak nyambung antara gue dan kode — sampai gue nggak tahu lagi apakah masalahnya di cara belajar gue, atau emang gue yang nggak berbakat.
Andai dulu difokusin.
Kalimat itu sering banget muncul di kepala gue. Andai dulu nggak terdistraksi. Andai dulu milih jurusan yang lebih relevan. Andai dulu, andai dulu, andai dulu.
Tapi “andai dulu” adalah kalimat paling tidak produktif yang bisa gue ucapkan ke diri sendiri. Dan gue tahu itu. Tapi tetap susah untuk berhenti.
Yang Akhirnya Beda
Gue nggak tahu persis apa yang berubah. Mungkin karena project ini punya konteks nyata — bukan latihan, bukan tutorial, tapi sesuatu yang gue butuhkan sendiri.
Gue bikin bot Telegram untuk catat keuangan sendiri. Bukan karena ada yang nyuruh. Bukan karena ada deadline. Tapi karena gue boros dan nggak tahu kemana uang gue pergi, dan gue capek sama kondisi itu.
Dan untuk pertama kalinya, gue nggak berhenti di tengah jalan.
Bukan karena tiba-tiba berbakat. Bukan karena prosesnya mudah — ada banyak error, banyak sesi debugging yang bikin frustrasi, banyak konsep yang gue ulang berkali-kali sebelum nempel. Tapi karena ada alasan yang lebih besar dari sekadar “gue harus belajar coding.”
Mungkin itu yang selama ini kurang — bukan kemampuan, tapi konteks.
Soal Ketinggalan
Gue masih ngerasa ketinggalan. Itu jujur.
Target gue ada di data — analyst, scientist, engineer. Dan jarak antara gue sekarang ke sana masih jauh. Ada banyak yang belum gue tahu, banyak skill yang belum gue punya, banyak pengalaman yang harus gue kumpulkan.
Tapi gue mulai mikir ulang soal definisi “ketinggalan.”
Ketinggalan dari siapa? Dari orang yang mulai lebih awal? Iya, mereka punya keunggulan waktu. Tapi mereka nggak punya perjalanan gue — background finance yang ternyata jadi nilai tambah di data, kemampuan baca angka yang udah terasah bertahun-tahun, perspektif yang beda karena gue datang dari dunia yang berbeda.
Ketertinggalan itu nyata. Tapi itu bukan satu-satunya variabel.
Satu Hal yang Gue Pegang
Di tengah semua uncertainty itu, ada satu hal yang gue pegang:
Gue bergerak.
Mungkin pelan. Mungkin nggak seefisien orang lain. Mungkin masih banyak yang salah dan harus diulang. Tapi gue bergerak.
Bot ini jalan 24 jam di server gue. Dashboard ini nyala dan nunjukin data nyata. Artikel ini ditulis dan dipublish. Kecil-kecil, tapi nyata.
Dan mungkin itu cukup untuk sekarang — bukan untuk berhenti di sini, tapi untuk tidak berhenti sama sekali.
Kalau kamu lagi di posisi yang mirip — ngerasa ketinggalan, ngerasa belum cukup, ngerasa terlambat — gue nggak punya kata-kata ajaib. Tapi setidaknya kamu tahu kamu nggak sendirian.
🌐 grandyella-dev.vercel.app 💼 linkedin.com/in/ahmadzulfikartanjung